Wound Class Serie 17 Managemen Luka Tekan/ Pressure Injury

Masuk ke Zoom meeting dengan klik gambar dibawah ini

Luka tekan atau pressure ulcer merupakan kerusakan jaringan kulit dan struktur di bawahnya akibat tekanan berkepanjangan, terutama pada area tonjolan tulang. Kondisi ini umum terjadi pada pasien dengan mobilitas terbatas, seperti lansia, pasien pasca operasi, atau penderita cedera tulang belakang. Luka tekan dapat menimbulkan komplikasi serius seperti infeksi, nyeri kronis, hingga sepsis, sehingga pencegahan dan penanganan yang tepat sangat penting.

Pengkajian Luka Tekan

Pengkajian yang cepat dan komprehensif menjadi langkah awal penting dalam manajemen luka tekan. Berbagai alat penilaian seperti Braden Scale, Norton, Waterlow, dan BWAT (Bates-Jensen Wound Assessment Tool) digunakan untuk menilai risiko serta tingkat keparahan luka.

Aspek yang perlu dinilai meliputi:

  • Faktor intrinsik: usia, status gizi, penyakit penyerta, dan mobilitas.
  • Faktor ekstrinsik: tekanan, gesekan, kelembapan, dan gaya geser.

Selain pengkajian fisik, evaluasi emosional pasien juga perlu dilakukan karena luka kronis berdampak pada kualitas hidup dan psikologis penderita.

Klasifikasi dan Jenis Jaringan Luka

Luka tekan dibagi menjadi empat grade/stadium:

  1. Grade 1: Eritema pada kulit utuh yang tidak hilang setelah tekanan dilepas.
  2. Grade 2: Kehilangan sebagian lapisan kulit (epidermis dan dermis).
  3. Grade 3: Kehilangan seluruh lapisan kulit hingga jaringan subkutan.
  4. Grade 4: Kerusakan sampai otot, tendon, atau tulang, sering disertai infeksi.

Jenis jaringan yang sering dijumpai pada luka tekan meliputi:

  • Jaringan nekrotik (hitam): jaringan mati yang perlu didebridemen.
  • Slough (kuning): jaringan mati lunak yang menghambat penyembuhan.
  • Granulasi (merah): jaringan sehat tanda proses penyembuhan.
  • Epitelisasi (pink): lapisan baru yang menutup luka.

Manajemen Luka Tekan

Pendekatan modern menggunakan konsep MOIST:

  • M (Moisture balance): menjaga keseimbangan kelembapan luka.
  • O (Oxygen balance): memastikan suplai oksigen cukup.
  • I (Infection control): mencegah dan mengatasi infeksi.
  • S (Support strategy): dukungan nutrisi dan sistemik.
  • T (Tissue management): debridemen jaringan mati.

Langkah-Langkah Utama Perawatan

  1. Pembersihan luka (cleansing): menggunakan NaCl 0,9% atau cairan steril.
  2. Debridemen: mengangkat jaringan mati untuk mempercepat penyembuhan.
  3. Pengendalian infeksi: memakai antiseptik topikal seperti PHMB, perak, atau iodine.
  4. Pemilihan balutan (dressing):
    • Eksudat rendah: hidrogel, hidrokoloid.
    • Eksudat sedang: foam, hidrofiber, alginat.
    • Eksudat tinggi: superabsorber, NPWT (Negative Pressure Wound Therapy).
  5. Nutrisi dan hidrasi: asupan protein, vitamin C, dan zinc sangat penting.
  6. Manajemen tekanan: reposisi pasien setiap dua jam dan gunakan matras dekubitus.

Pencegahan dan Penanganan Kontaminasi

Kontaminasi dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi. Pencegahan dilakukan dengan:

  • Menjaga kebersihan area luka.
  • Mengontrol kelembapan kulit (mencegah maserasi).
  • Menggunakan barrier cream atau balutan pelindung.
  • Edukasi keluarga dan perawat untuk perawatan berkelanjutan di rumah.

Kesimpulan

Manajemen luka tekan membutuhkan pendekatan holistik dan multidisipliner. Pengkajian yang akurat, pemilihan balutan yang tepat, kontrol infeksi, serta perhatian terhadap faktor psikologis dan nutrisi merupakan kunci keberhasilan. Pencegahan melalui edukasi dan reposisi pasien secara rutin jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan luka yang sudah terbentuk.

One response to “Wound Class Serie 17 Managemen Luka Tekan/ Pressure Injury”

  1. Suwarman Avatar
    Suwarman

    Mantap…mksh ilmunya mas harsah…sehat suge saklawase

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *